Ada seorang
lelaki mudah, datang dari Papua menuju ke Surabaya, untuk menuntut
ilmu. Namanya Mateus. Ia bercerita kepada saya, niatnya untuk
melanjutkan studi di kota surabaya. Dia menamatkan diri dari Sekolah
Menengah kejuruaan (SMK), tahun 2011. Jurusan Listrik. Setahun
lamanya, dia tidak melanjutkan kuliah karena kesehatan tidak
mendukung (Sakit-sakit). Kini, tahun 2012 ia injak di kota
metropolitan kedua di Indonesia.
Ketika ia
sampai di surabaya, dia lebih banyak bertanya. ia juga tanya
menyangkut jurusan yang langkah di bumi papua. Tanpa paksaan dari
orang lain, lelaki ini memilih jurusan teknik Perencanaan Wilayah dan
Kota (PWK) di Universitas PGRI Adhi Buana atau Julukannya Kampus
Semangat Pagi. Proses pendaftaran hingga pembayaran administrasi
berjalan dengan lancar. Sebagai mahasiswa baru (MABA), ia
mempersiapkan segala perlengkapan yang di butuhkan saat Pembekalan.
13-16 September 2012, Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) akan
mulai.
Tidak terasa
sudah 2 bulan ia di Surabaya. Ia tinggal di salah satu kontrakan.
Wisma Pana’s nama kontrakannya. Bulan-bulan terakhir ini lelaki
tersebut jatuh sakit. Menurut dia, gejala sakit tersebut pernah
alami di Papua, tepatnya saat ia bersama orang tuanya. Di papua ia
tinggal di salah satu kota tua masa Belanda, pinggiran danau Tigi,
Wakeitei, Deiyai, Papua. Dia tinggal bersama orang tuanya.
Selama di
surabaya, dia berusaha berobat ke dokter praktek terdekat. Tempat
berobat tidak jauh dari Wisma Pana’s. Sering ke dokter namun,
kondisi badan belum juga pulih. Sekitar 3 kali lelaki tersebut pergi
ke dokter praktek untuk berobat.
Saya sempat
anjurkan dia untuk kembali ke kampung halamannya. Tapi, menurut dia
malu pulang ke kampung karena ia di utus dari kedua orang tuanya
untuk kuliah di Surabaya. Dia memiliki rasa peduli dengan orang
tuanya. Ia sangat menghargai nasehat maupun didikan yang perna di
wariskan oleh orang tuanya. Ia anak yang penurut perkataan orang tua.
Ia juga anak yang baik. Sehingga, ia tidak berani komitmen untuk
pulang ke Papua. sekalipun kondisi kesehatan tidak mendukung (Sakit).
Suatu saat,
ketika kami sedang duduk-duduk di kamar sambil baca-baca buku,
terdengar deringan handphone, milik dia. Nada Panggilan masuk dari
orang tuanya. Orang tuanya tinggal wakeitei, Deiyai. Deiyai adalah
salah satu kabupaten pemekaran dari kabupaten Paniai. Sehingga,
untuk sementara belum ada Jaringan Telkomsel di wilayah tersebut.
kedua orang tuanya, menuju ke Kabupaten Paniai menggunakan
transportasi darat. Mobil Innova dan Avansa menjadi taksi di wilayah
itu. Tarif per-orang dari Deiyai menuju Paniai, Rp 50.000,00 PP.
Berarti, total biaya pengeluaran kedua orang tua tersebut sebesar Rp
200.000.
Perbincangan
dia dengan kedua orang tuanya cukup lama. Beberapa menit kemudian,
handphone tersebut, ia serahkan ke saya. “orang tuaku, ingin bicara
ke kamu” kata dia. Menurut kedua orang tuanya, dalam kesempatan
pertama, anaknya segera di pulangkan ke Papua. alasannya, karena
masih mahasiswa baru di kota pahlawan, sudah sakit-sakitan. “Ia
akan lanjut kuliah pada tahun depan” tutur kedua orang tuanya. Saya
hanya terima keputusan kedua orang tuanya. Karena, kedua orang tuanya
yang akan menentukan proses perkuliahan dia, di surabaya.
Setelah
handphone di matikan. Saya tanya dia (Mateus), apakah kamu akan
pulang ke papua? menurut dia “karena permintaan orang tua, Saya
akan pulang ke papua. kalau inisiatif saya sendiri, mana mungkin
pulang ke Papua. Saya tidak berani datang hanya berfoya-foya atas
hasil keringat orang tua”. Ungkapnya. Kedua orang tuanya sarankan
saya, untuk antar sampai di kampung halaman. Sehingga, Dalam waktu
dekat saya akan antar hingga ke Wakeitei, Deiyai, Papua.
Saat ia
ceritakan harapan yang didambahkannya, saya hanya pendengar setia.
Kadang-kadang, hati saya juga ikut merasakan, apa yang ia ceritakan.
Dia punya impian yang sangat besar. Ia juga memiliki motivasi yang
tinggi dalam mengaktualisasi diri. Sehingga, ia berjanji tahun depan
pasti akan melanjutkan kuliah.
Previous
« Prev Post
« Prev Post
Next
Next Post »
Next Post »
