Kecewa
On 14.01
Belum
lama ini, dalam Rapat Forum Mahasiswa dan Mahasiswi kota Study
Surabaya, memilih saya menjadi ketua Badan Formatur untuk
mensukseskan pemilihan ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua
(IPMAPA), di kota Studi Surabaya. Sebagai ketua, saya harus
bertanggungjawab penuh untuk sosialisasikan pentingnya IPMAPA di
kalangan mahasiswa. Karena, organisasi IPMAPA di kota studi Surabaya,
tidak berjalan selama ± 10 tahun. Untuk
menghidupkan kevakuman dalam organisasi IPMAPA, beberapa kali
saya mengeluarkan surat undangan, ditujukan kepada seluruh mahasiswa
untuk kumpul kembali dalam rangkah membahas agenda prioritas.
Undangan
kali pertama, ketika sebagian surat undangan sudah tersebar dan
sebagiannya lagi masih belum tersebar terjadi “ketrabakan” dengan
undangan dari Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Pegunungan
Tengah Papua di kota surabaya. Artinya, saya merasa bahwa di antara
kami (ketua Maba dengan Saya) diskomunikasi. Sempat terjadi aduh
mulut. Entahlah, ketua Panitia Maba (Mahasiswa Baru) mempertahankan
argumennya. Malah, Ketua Maba meyakinkan saya dengan pernyataan
bahwa, penerimaan Maba lebih penting di bandingkan dengan pemilihan
ketua IPMAPA.
Dalam
situasi aduh mulut, saya menjelaskan pentingnya IPMAPA dan ruang
lingkup kerjanya. Saya menjelaskan, IMAPA lebih penting karena akan
mengayomi seluruh Mahasiswa Papua yang berada di kota studi Surabaya.
Sedangkan, Maba pegunungan tengah, sifatnya spesifik karena
maba pegunungan tengah artinya sekelompok orang yang berasal dari
gunung (tidak termasuk Paniai, dan pesisir).
Selain
itu, banyak orang yang sempat menyumbangkan bahasa untuk mendukung
argumen saya. Namun, itupun tidak di tanggapi oleh Ketua Penerimaan
Maba tersebut. karena tidak mengerti penjelasan-penjelasan tersebut,
saya ambil komitmen untuk mengalah dan pertemuan IPMAPA di tunda.
Setelah
pertemuan tersebut di tiadakan, empat hari lalu (2-9-2012), saya
keluarkan surat undangan untuk mengundang seluruh mahasiswa di kota
surabaya. Agar, hadir kembali untuk melanjutkan agenda yang tertunda.
Namun, undangan tersebut tidak satupun orang yang
menanggapinya. Yang hadir di Asrama Papua sekitar 10 orang. Lebih
banyak mahasiswa dari Nabire dan Paniai, hadir pada saat itu. Asrama
Papua letaknya di jalan Kalasan Nomor 10 Surabaya. Mengingat
teman-teman mahasiswa tidak hadir, saya komitmen untuk membubarkan
teman-teman yang hadir pada pukul 18.00 sore.
Hal
ini merupakan suatu tantangan yang saya harus terima dengan berjiwa
besar. Karena, dengan persoalan tersebut akan mengantar pada
suatu proses perubahan dan aktualisasi diri dalam menanggapi
persoalan yang kompleks.
