Loading...
Keterangan:

HEADLINE NEWS

Kecewa

Belum lama ini, dalam Rapat Forum Mahasiswa dan Mahasiswi kota Study Surabaya, memilih saya menjadi ketua Badan Formatur untuk mensukseskan pemilihan ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA), di kota Studi  Surabaya. Sebagai ketua, saya harus bertanggungjawab penuh untuk sosialisasikan pentingnya IPMAPA di kalangan mahasiswa. Karena, organisasi IPMAPA di kota studi Surabaya, tidak berjalan selama ± 10 tahun. Untuk menghidupkan kevakuman dalam organisasi IPMAPA, beberapa  kali saya mengeluarkan surat undangan, ditujukan kepada seluruh mahasiswa untuk kumpul kembali dalam rangkah membahas agenda prioritas. 

Undangan kali pertama, ketika sebagian surat undangan sudah tersebar dan sebagiannya lagi masih belum tersebar terjadi “ketrabakan” dengan undangan dari  Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Pegunungan Tengah Papua di kota surabaya. Artinya, saya merasa bahwa di antara kami (ketua Maba dengan Saya) diskomunikasi. Sempat terjadi aduh mulut. Entahlah, ketua Panitia Maba (Mahasiswa Baru) mempertahankan argumennya. Malah, Ketua Maba meyakinkan saya dengan pernyataan bahwa, penerimaan Maba lebih penting di bandingkan dengan pemilihan ketua IPMAPA.

Dalam situasi aduh mulut, saya menjelaskan pentingnya IPMAPA dan ruang lingkup kerjanya. Saya menjelaskan, IMAPA lebih penting karena akan mengayomi seluruh Mahasiswa Papua yang berada di kota studi Surabaya. Sedangkan, Maba pegunungan  tengah, sifatnya spesifik karena maba pegunungan tengah artinya sekelompok orang yang berasal dari gunung (tidak termasuk Paniai, dan pesisir).  

Selain itu, banyak orang yang sempat menyumbangkan bahasa untuk mendukung argumen saya. Namun, itupun tidak di tanggapi oleh Ketua Penerimaan Maba tersebut. karena tidak mengerti penjelasan-penjelasan tersebut, saya ambil komitmen untuk mengalah dan pertemuan IPMAPA di tunda.

Setelah pertemuan tersebut di tiadakan, empat hari lalu (2-9-2012), saya keluarkan surat undangan untuk mengundang seluruh mahasiswa di kota surabaya. Agar, hadir kembali untuk melanjutkan agenda yang tertunda.  Namun, undangan tersebut tidak satupun orang yang menanggapinya. Yang hadir di Asrama Papua sekitar 10 orang. Lebih banyak mahasiswa dari Nabire dan Paniai, hadir pada saat itu. Asrama Papua letaknya di jalan Kalasan Nomor 10 Surabaya. Mengingat teman-teman mahasiswa tidak hadir, saya komitmen untuk membubarkan teman-teman  yang hadir pada pukul 18.00 sore. 

Hal ini merupakan suatu tantangan yang saya harus terima dengan berjiwa besar. Karena,  dengan persoalan tersebut akan mengantar pada suatu proses perubahan dan aktualisasi diri dalam menanggapi persoalan yang kompleks.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *